Rabu, 13 Mei 2020

Imas Masitoh, Hidupi 130 Anak Asuh dengan Berjualan Keset


Keterbatasan memang bukanlah alasan untuk menghalangi seseorang terus berbagi kebaikan. Bahkan, berbagi saat Anda sedang dilanda kekurangan, malah jadi sumber kebahagiaan dan berkah tersendiri. Pemikiran seperti inilah sepertinya yang selalu jadi pegangan Imas Masitoh. Hatinya sungguh mulia, menghidupi 130 anak asuh walau pekerjaannya hanya sekadar berjualan keset saja. 

Kepergian Anak Bungsu jadi Awal Mula Perjuangan 

Bukan harta yang membuat Imas Masitoh bahagia, melainkan melihat anak asuhnya bisa tercukupi makan dan minumnya dengan baik. Perbuatan mulia yang dilakukannya ini bermula pada tahun 2012. Pada tahun itu, Imas harus menelan pil pahit karena anak bungsunya yang masih usia balita meninggal dunia. Terpuruk jangan ditanya, tentu dunianya serasa hancur saat itu bagi Imas. 

Tak ingin anaknya terus terpuruk, ayah Imas pun mengajak anaknya untuk berdagang di sekolah. Saat berdagang inilah ia bertemu dengan 7 anak yatim, yang kerap menyampaikan keluh kesah mereka pada Imas. Hati Imas pun tergerak, ia menggratiskan dagangannya untuk 7 anak yatim tersebut. Bahkan, ia mengajak pedagang lain untuk turut bersedekah pada 7 anak yatim tersebut. 

Seiring berjalannya waktu, jumlah anak yatim yang dirawat oleh Imas pun terus bertambah. Daroi yang tadinya hanya 7 orang saja, bertambah jadi belasan orang. Kematian sang ayah kala anak yatim yang diasuhnya berjumlah 15 orang, jadi salah satu sumber kekuatan Imas untuk terus melanjutkan perbuatan mulianya ini. Sang Ayah berpesan pada Imas untuk terus melanjutkan perjuangannya. 

Tetap Bertahan Walau Banyak Cercaan dan Cibiran 

Bukanlah proses yang mudah bagi Imas untuk terus bertahan mengasuh sebanyak 130 anak yatim hingga sekarang. Bagaimana tidak, ia terus bertahan mengasuh anak yatim dengan mengandalkan pendapatan dari hasil berdagang gorengannya. Cibiran dan cemoohan orang sekitar jadi makanan sehari-harinya. Ia dianggap tak waras karena mengasuh anak yatim di tengah keterbatasan hidupnya.  

Namun, pantang bagi Imas terpuruk hanya karena cemoohan orang lain. Ia pun memutuskan untuk mengontrak rumah berukuran 5x8 meter di Cibungur, Bandung Barat, yang dijadikannya sebagai panti asuhan. Ada sekitar 20 orang anak asuh yang dirawatnya di panti tersebut. Ratusan anak asuhnya yang lain di kawasan Bandung Raya pun tetap berada di dalam pemantauan dan pengasuhannya. 

Menghidupi Anak Asuh dengan Pendapatan Seadanya

Melihat banyaknya anak yatim yang diasuh Imas, tentu Anda pun berpikiran dari mana ia mendapatkan dana untuk menghidupi mereka. Imas menggantungkan hidupnya pada hasil menjual gorengan dan keset kaki. Suaminya turut serta membantu Imas bekerja, karena mengalami PHK di tempat. Strok yang dialaminya di tahun 2017, tak lantas membuatnya patah arang untuk terus berusaha. 

Penjualan keset dimulai Imas sejak tahun 2017. Ilmu membuat keset didapatkannya dari salah satu anak asuhnya. Keset tersebut dijual Imas dengan harga hanya 10 ribu saja. Semangatnya yang tetap teguh mengasuh anak yatim dengan segala keterbatasannya, membuat Imas pun akhirnya dapat simpati dari banyak orang. Bahkan, tahun lalu ia diundang Hitam Putih atas kisah inspiratifnya ini. 

Perbuatan Mulia Imas Masitoh yang Sangat Pantas Diapresiasi

Berbagi di tengah keterbatasan diri sendiri memang susah, namun Imas Masitoh melakukannya dengan begitu mudah dan tulus. Makanya, tak salah kiranya jika Imas diberikan kesempatan untuk melaksanakan umroh gratis lewat kampanye #AwaliDenganKebaikan Allianz. Imas merupakan sosok yang tepat, untuk mengingatkan orang untuk terus aktif berbagi dengan orang lain.        

Kampanye #AwaliDenganKebaikan merupakan program Allianz untuk terus mengajak orang bisa melakukan perbuatan baik antar sesama. Tak hanya itu saja, lewat produk asuransi syariah yang dimilikinya, perusahaan asuransi syariah Indonesia ini menawarkan jaminan perlindungan masa depan keluarga Anda.   

0 komentar:

Posting Komentar